” Pak maafkan dalem ini yang kali ini mungkin tak mampu membantu sembuhkan Bapak lagi”
“Tak apa Bob, Aku sudah tua dan kamu kali ini juga sedang ruwet pikiranmu kan?”
“Inggih tapi dalem tak ingin kalah oleh mereka Pak sekalipun dalem sedang memikirkan Meutya Hafid itu, dan juga terpaksa tambah kerjaan karena ulah saingan2 dalem soal dia itu”.
“Aku wis ngerti koq, tak usah kau itu kecil hati, masih panjang jalanmu, dan jangan kau korbankan dirimu demi aku yang sudah tua ini. Ragaku pun juga sedang tidak sadarkan diri, lebih baik kau lindungi saja dirimu sendiri”.
Mati nanti atau sekarang bagi dalem sama saja Pak, kalau Tuhan kehendaki , tak mungkin kita tolak kan? Dalem berani berkorban demi Panjenengan bukan karena Panjenengan Bayar tapi karena Dalem tidak iklash kalau justru orang2 yang dzalim yang sebenarnya itu yang Menang, juga teman2 dalem semua bilang begitu”.
Itulah sekelumit dialog gaib saat seminggu sebelum Pak Harto wafat.
Lalu ketika Jaguar tahu dan mendengar tentang wafatnya Pak Harto hari itu, esoknya ia ke Dalem Kalitan. Tapi ternyata jadwal perjalanan Almarhum ke Makam Giri Bangun tidak di semayamkan di dalem Kalitan itu, lalu niat Bobby untuk lakukan sholat jenasah di sana terpaksa Batal, namun ia lalu menuju ke Masjid Nursalam? depan Dalem Kalitan yang di bangun oleh Keluarga cendana itu lalu ambil air wudhu dan lalu sendirian lakukan sholat ghaib mengiringi kepergian Mantan Presiden RI , orang terdekat Densus Harimau Indonesia itu di saat lalu.
Selamat jalan Pak Harto, hanya inilah yang dapat dalem lakukan sebagai penghormatan terakhir pada Bapak.
Kira2 begitulah yang tersirat dari tindakan Bobby itu.